saya baru saja balik dari kampung kelahiran setelah mudik lebaran kemarin, selama di sana, saya bisa menelusuri kembali sudut-sudut kota kelahiran yang telah lama tidak dilalui, dan pastinya pada beberapa titik posisi ada kenangan-kenangan tertentu yang membayang di pikiran..
hmm..
namun, bukan masalah lebaran atau kenagan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini..ada sedikit perasaan iba, kesal, saat mendengar dan memperhatikan kondisi terkini dunia sekolah di sana, di daerah kelahiran saya..mudah-mudahan ini tidak terjadi di daerah lain..
kebetulan, saat saya masih di sana, persekolahan telah dimulai setelah liburan lebaran..seperti biasa, hari pertama masuk sekolah dimanfaatkan untuk halal bil halal atau gotong royong kebersihan sekolah dan pekarangannya..dan tradisi ini sepertinya masih dijaga..
pada saat saya melintasi jalan raya, yang notabene banyak terdapat sekolah mulai dari SD sampai SMA di pinggir jalan raya tersebut, saya bisa menyaksikan beberapa sekolah yang hari pertamanya digunakan untuk kebersihan..bagus, ini memang tradisi yang lumayan bagus dan perlu dipertahankan, banyak hikmah yang dapat diambil darinya..
namun, ada hal yang menyesakkan jiwa, karena pada saat gotong royong kebersihan sekolah dan pekarangannya, saat para siswa bekerja keras, bahkan sebagian di antara mereka tidak menyadari pakaian seragam yang dikenakannya telah kotor berlumuran tanah dan kotoran lainnya, maka pada saat itu juga saya menyaksikan beberapa guru malah hanya berdiri bertolak pinggang di sekitar siswa-siswanya, laksana seorang mandur yang mengawasi pekerjaan para anak buahnya..miris, bukankah semestinya mereka memulai, menjadi teladan yang nantinya akan diikuti oleh para siswanya? apa kira-kira yang terpikir di benak para siswa saat mendapati guru yang demikian? mungkin mereka akan berfikir, “nanti saat saya jadi guru, saya akan balas dendam”..ya, mungkin..
saya menceritakan itu di rumah, kontan saudara-saudara saya menambahka cerita lainnya, masih tentang keteladanan..di beberapa sekolah, ada peraturan intern yang melarang siswa-siswanya untuk menonton acara organ tunggal yang sering diadakan di sana, khususnya kalau lagi ada hajatan, kemungkinan akan ada organ tunggal, tetapi mereka menambahkan, bahwa pada saat yang sama, guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut ternyata nonton organ tunggal dimaksud, bahkan dengan pakaian yang tidak mencerminkan kepribadian sekolahnya, tanpa jilbab (sekolahnya adalah madrasaha tsanawiyah dan madrasah aliyah)..
ya, mungkin ini hanya terjadi di daerah kelahiran saya, tetapi tetap tidak tertutup kemungkinan hal ini juga terjadi di daerah lainnya..dan ini hanyalah sedikit contoh, mungkin masih banyak kisah dan kasus lain yang sama..
yang pasti, pendidikan kita miskin keteladanan..
..^-^..