Puluhan tahun silam, dunia perempuan masih terasa suram. Istilah bahwa perempuan hanya akan berakhir di dapur masih dianut oleh sebagian besar masyarakat. Atau ada paham lain yang mengatakan bahwa perempuan hanya akan memainkan peran “dapur, sumur dan kasur”. Bahkan pada peradaban jahiliyah di jazirah arab dulu, bayi perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup, seakan-akan ada rasa malu yang sangat pada hati para orang tua saat anak yang lahir adalah perempuan. Bahkan sampai sekarang, paradigma seperti itu mungkin masih ada di berbagai belahan dunia, terutama di daerah perkampungan yang belum tersentuh modernisasi. Masih kita temukan seorang perempuan yang tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi, cukup sampai SMA saja, bahkan mungkin tidak perlu sekolah, karena dianggap akan berujung ke dapur juga. Sebuah paradigma dan cara berpikir yang menyedihkan.
Padahal, perempuan sebenarnya adalah makhluk yang amat berharga. Tanpa mereka maka dunia ini tidak akan berwarna. Keseimbangan hidup tidak akan tercapai, karena Allah jelas-jelas menciptakan mereka sebagai pasangan bagi pria, dan memang sudah merupakan sunnatullah bahwa semua yang ada di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa di balik seorang pria sukses, pasti ada perempuan hebat. Ungkapan ini bukan isapan jempol belaka, karena terbukti bahwa di balik para tokoh nasional maupun internasional, selalu ada perempuan yang menjadi inspirator dan pendamping setia bagi mereka. Semua ini menunjukkan bahwa betapa berharganya seorang perempuan dalam kehidupan ini.
Beberapa tahun kemudian, muncullah pergerakan perempuan di berbagai belahan dunia. Di indonesia sendiri pergerakan itu diprakarsai oleh seorang tokoh perempuan yang sudah tidak asing lagi bagi kita, beliau adalah RA Kartini. Terlepas dari adanya kontroversi tentang beliau, setidaknya beliau sudah membuka jalan bagi tersalurnya keinginan para perempuan indonesia untuk mendapat perlakuan dan hak yang sama dengan kaum pria. Kesamaan hak di bidang pendidikan, pekerjaan dan profesi, kebebasan dan sebagainya.
Emansipasi, kata yang belakangan ini menjadi hangat di dunia perempuan. Emansipasi, sebuah suara perubahan untuk memberi perempuan kesempatan seluas-luasnya berkarya sesuai hasrat mereka, tanpa pengekangan. Dengan emansipasi, sekarang ini para perempuan boleh bekerja seperti halnya pria, keluar rumah bahkan keluar kota sebebasnya, memiliki profesi seperti pria, bahkan sampai pada berpenampilan sebagaimana seorang pria. Karena kehendak emansipasi adalah adanya persamaan hak antara pria dan wanita dalam segala bidang.
Saya jadi teringat komentar seorang teman saat emansipasi mulai booming dulunya, dan ini memang menjadi bahan obrolan dimana-mana. Teman tersebut mengatakan, “kalau perempuan minta semuanya disamakan, gimana kalau kamar mandinya juga disamakan?” Maksudnya bagaimana kalau kamar mandi pria dan perempuan itu disatukan? Apa yang akan terjadi? Mungkinkah para perempuan itu mau? Sepertinya jawabannya pasti, TIDAK MAU!
Emansipasi, perkembangan atau kemunduran?
Sebenarnya emansipasi adalah gerbang perubahan yang baik, asalkan dimanfaatkan dengan baik dan tetap memperhatikan batasan-batasan tertentu. Emansipasi merupakan gerbang kesempatan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi, untuk menambah bekal ilmu. Kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan skill, kesempatan untuk berkarir sesuai keinginan, tetapi tetap memperhatikan batasan-batasan dan norma-norma yang berlaku. Kalau seperti itu saya setuju.
Namun jika emansipasi menjadi gerbang kebebasan untuk seorang perempuan boleh berbuat dan berpenampilan sesuka hatinya, bebas bergaul dengan siapa aja, bebas berkarir dan keluar rumah bahkan keluar kota dengan siapa saja, meninggalkan rumah, suami dan anak-anaknya -bagi yang sudah berkeluarga- sehingga mereka hanya ditemani oleh pembantu dan proses pendidikan dan pembinaan anak akan terbengkalai, maka saya kurang setuju. Bukankah sekolah pertama itu adalah di keluarga? Seorang ibu seharusnya memberi pendidikan terbaik buat anak-anaknya, bahkan sejak anak dalam kandungan. Kalau dikatakan bahwa anak kan bisa disekolahkan di sekolah berkualitas, maka menurut saya itu pun kurang, seharusnya dengan sepenuh kasih saying dan perhatiannya, seorang ibulah yang mendidik anaknya dengan pendidikan dan pembinaan terbaik, karena banyak hal yang tidak diperoleh anak di sekolah dan hanya diperoleh di rumah dari sang ibu tercinta.
Belum lagi harus bersama dengan orang lain di luar kota , yang sangat mungkin sekali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Banyaknya kasus selingkuh bias bermula dari seorang perempuan yang jauh dari suami dan bersama dengan orang lain, dan atau seorang pria yang terlalu lama ditinggal oleh sang istri. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan.
Bahkan profesi-profesi yang dijalani pria juga ingin dijalani oleh perempuan, sehingga misalnya ada perempuan yang berprofesi sebagai pemain sepak bola, atlet angkat besi dan sebagainya yang menurut saya tidak sesuai dengan fitrah seorang perempuan. Seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman perempuan, bahwa menurut saya profesi yang paling cocok untuk seorang perempuan itu hanyalah pada dua bidang saja, yaitu pendidikan, jadi guru, dosen, akademisi dan sebagainya dan kesehatan, jadi dokter, perawat, bidan dan sebagainya.
Dari segi penampilan juga, tidak bisa dipaksakan sama antara pria dan perempuan. Saya pernah bertanya pada seorang teman yang berlatar belakang umum –bukan religius-, mengenai pandangan dia tentang perempuan yang berpenampilan minim dengan perempuan yang berpenampilan menutup seluruh bagian tubuhnya. Saya lumayan kaget dengan jawabannya, karena dia ternyata lebih tertarik dengan perempuan yang menutup seluruh tubuhnya, kelihatan lebih anggun, ayu dan menunjukkan identitas sebagai perempuan terhormat. Karena memang pakaian minim itu adalah pakaian pada zaman purba dahulu kala, jadi kalau saat ini masih ada yang mengenakan, berarti layak dikatakan sebagai manusia zaman dulu juga?
Sebenarnya masih banyak masalah yang nantinya akan ditimbulkan oleh emansipasi yang tidak digunakan tepat pada tempatnya. Mungkin para pembaca juga mampu memikirkan dan menemukannya sendiri. Sehingga, pernyataan “emansipasi, perkembangan atau kemunduran?” rasanya tidak terlalu berlebihan.
Arah emansipasi ke depan
Masa lalu biarlah berlalu. Sikap terbaik adalah perubahan dan perbaikan ke depan harus terus menerus dilakukan. Perubahan ke arah yang lebih baik dalam menyikapi dan melaksanakan emansipasi. Seorang perempuan tidak boleh kehilangan identitas dan jati dirinya dengan adanya emansipasi, justru dengan emansipasi seorang perempuan harus lebih mampu menjadi seorang perempuan agung. Agung dari segala segi, pendidikan, potensi, kemandirian, ketegasan, dan yang tidak kalah penting adalah agung dari segi akhlak, pekerti, sopan santun, moral.
Pada akhirnya segala sesuatunya diserahkan kepada para perempuan. Merekalah yang lebih mengerti dengan urusan mereka, dan merekalah yang lebih mampu mengambil keputusan akan semua persoalan yang berkaitan dengan dunia mereka. Kita percaya bahwa hati nurani dan kedewasaan mereka akan mampu mengajarkan makna emansipasi yang sebenarnya,sehingga mereka tidak terjerat pada emansipasi yang salah.
Pojok Kantor, 4 April 2007
_with lots of love_
_poejangga_