Posted by: ameernasoetion | October 23, 2009

saya juga pernah diajarin jihad..

lagi-lagi pesantren..
korban sorotan media karena adanya kasus bom bunuh diri lagi di negara ini..
entah mengapa ini semua terjadi, entah mengapa ‘beberapa pesantren’ identik dengan peristiwa-peristiwa tersebut..
beberapa hari belakangan ini media banyak melakukan interview ke beberapa pesantren, dan salah satu pertanyaan yang sempat samar-samar saya dengarkan adalah, apa saja yang diajarkan dalam pesantren tersebut..
apakah pernah diajarkan tentang jihad?

‘jihad’, kata yang sepertinya menjadi momok dalam kasus-kasus seperti ini, lagi-lagi jihad alasan di balik peristiwa-peristiwa itu..
terus terang saya juga pernah diajari ilmu tentang jihad..
karena saya juga pernah mengecap pendidikan di pesantren, tepatnya boarding school yang semi pesantren..
hmm..

setau saya..
jihad, berasal dari kata ‘jahada’ yang artinya bersungguh-sungguh..
saat kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan apapun karena Allah dan dalam kegiatan yang diridhoi Allah, maka itu bisa dikategorikan dalam jihad..
secara garis besar jihad itu terbagi atas jihad harta, jihad raga/perang dan jihad kata-kata..
jihad harta dengan infaq harta untuk kegiatan-kegiatan bermanfaat, seperti pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain-lain..
jihad kata-kata adalah dakwah mengajak orang kepada kebaikan dan kebenaran, mengajak orang shalat, puasa, zakat, sedekah, zikir dll..

nah, jihad denga raga adalah perang..
perang, harus memenuhi kondisi perang..
artinya musuh umat Islam benar-benar menyatakan perang dengan Islam, kondisi di lapangan benar-benar perang..
maka pada saat seperti itu boleh dilakukan bom syahid, itupun ‘mungkin’ adalah pilihan terakhir, karena nyawa satu orang generasi Islam yang benar-benar Islam itu sangat berharga, apalagi generasi muda, masih banyak hal yang bisa ia lakukan seandainya ia masih hidup..
peang dalam Islam juga ada ’sopan santunnya’, dilarang merusak bangunan, tempat ibadah, fasilitas umum, membunuh perempuan, anak-anak, lansia dst..
tidak asal perang, tidak asal ngebom..
dan untuk kondisi Indonesia yang masih seperti sekarang ini, bom syahid itu belum saatnya..
(menurut saya)..
kondisi perang contohnya terjadi pada umat Islam di Bosnia, Afganistan, Cechnya (dulu), saat ini Palestina..

untuk Indonesia, jauh lebih baik kita jihad dengan harta dan kata-kata dulu..
karena dengan jihad seperti itu, bangsa ini insyaAllah masih bisa kita perbaiki..
dan dengan itu, citra umat Islam Indonesia pun akan lebih baik di mata semua orang..

..^_^..

Posted by: ameernasoetion | October 23, 2009

daerah di ujung pulau bengkalis..

fiufh…..
akhirnya kesampean juga nginjak tanah di pulau bengkalis..
di pulau inilah terletak kota bengkalis, ibukota kabupaten bengkalis (juga), entah apa alasannya ibukota kabupaten tersebut didirikan di pulau ini, padahal sebagian besar daerahnya masih terletak di pulau sumatera, tentunya di daerah provinsi riau..

memang sih, kota tersebut adalah kota tua, sebagaimana kota-kota lain di indonesia khususnya di pulau sumatera, yang terletak di pesisir pantai, yang dulunya (mungkin) merupakan jalur perdagangan internasional, jalur lewatnya kapal-kapal pedagang..

minggu pertama, sebelum tenggelam dalam kesibukan, ada baiknya mencoba menyisir pulau ini, meski tidak terjangkau ke seluruh pelosok, setidaknya menyisir kota..
beberapa tempat sudah dikunjungi, termasuk daerah di ujung pulau tersebut, yang dinamakan desa sekodi..desa ini langsung berbatasan dengan laut, daerahnya adalah rawa-rawa, dengan tanah gambut dan banyak pohon bakaunya..(kata alif: “pohon pantai”)..
ke sekodi sebenarnya tidak dalam rangka jalan-jalan, tapi merupakan bagian dari tugas yang diistilahkan dengan cek fisik pekerjaan hasil belanja modal pemerintah kabupaten bengkalis..

pekerjaan yang ingin dilihat adalah pengadaan rumah layak huni untuk masyarakat di kecamatan bengkalis sebanyak 30 unit, rumah tersebut berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu (papan), tipe 45, sebagian dilengkapi dengan sumur, kamar mandi, dan sebuah drum untuk menampung air hujan..

sampai di sana, prihatin memang menjadi perasaan yang mengisi penuh hati ini..
sebagian besar masyarakat di sana masih tergolong miskin, kebanyakan rumah masih terbuat dari kayu, bahkan ada yang dindingnya terbuat dari kulit kayu, berlantaikan tanah dan atapnya dari rumput padang..tragis..
rumah seperti itulah yang diganti dengan rumah layak huni program pemda tersebut..

air, menyedihkan..
air di sana merupakan air rawa yang berwarna merah kecoklat-coklatan, bau tak sedap dan bercampur garam laut, itulah yang digunakan untuk mandi, mencuci, dan mungkin kegiatan-kegiatan hidup lainnya, sulit memperoleh air bersih di sana..

kalau sarana transportasi memang sudah lumayan, meskipun masih kurang memungkinkan untuk dijangkau mobil, sehingga akhirnya aku dan temen-temen memutuskan naik motor ke sana (terpaksa).. perjalanan dari kota bangkinang ke sana ditempuh kurang lebih dua jam, dengan kecepatan konstan rata-rata 60 km/jam, melelahkan (sangat)..
benar-benar auditor (audit dengan motor)..

sesampainya di lokasi, alhamdulillah kami bisa melihat wujud program tersebut, pengadaan rumah-rumah tersebut benar-benar membantu masyarakat di sana..sepertinya program ini akan dilanjutkan tahun-tahun berikutnya..

ini adalah gambaran daerah-daerah terpencil yang ada di indonesia, mungkin terdapat di seluruh pelosok di seluruh pulau di indonesia, bahkan sangat mungkin ada yang lebih parah..
diakui atau tidak, inilah gambara kondisi sebagian bangsa kita..

Posted by: ameernasoetion | October 23, 2009

simbol atau bentuk penghambaan..

dua malam ramadhan berlalu..
kita semua pasti bisa melihat antusias umat Islam untuk meramaikan masjid, lebih dari bulan-bulan biasanya..meskipun memang hanya pada awalnya saja, silakan perhatikan bagaimana keseriusan itu akan berkurang dan berkurang hari demi hari, hingga malam-malam terakhir ramadhan yang semestinya kita semakin serius beribadah, malah akan menemukan kondisi masjid yang semakin sepi saja..

hmm…
sepertinya harapan akan berlipat gandanya pahala sangat menggiurkan masyarakat kita..
meskipun dalam pelaksanaan ritual ini, mestinya ada satu pertanyaan yang mengisi benak kita..
apakah ini hanya SIMBOL atau BENTUK PENGHAMBAAN??

coba perhatikan, tidak sedikit masjid yang menyediakan sajian tarawih sambil riyadhoh (arab: olah raga), sambil tarawih kita juga sambil menggerakkan sendi-sendi tubuh dengan tempo yang cepat..
sehingga tidak jarang kita mendengarkan bacaan al fathihah diselesaikan dengan 2 atau 3 tarikan nafas saat melaksanakan tarawih..
apa gunanya dengan gagah berani mengatakan “kami melaksanakan tarawih 23 raka’at”, kalau pelaksanaannya sendiri seperti itu?
bukankah lebih baik tarawih 11 roka’at saja tetapi benar-benar diresapi, didalami, dihayati makna tarawih itu sebagai komunikasi dengan Allah?
atau mungkin lebih baik kita tarawih di rumah saja sendiri, tetapi benar-benar bermakna dan bermanfaat bagi ruhaniyah kita?
bukankah ini berarti tarawih itu hanya dijadikan SIMBOL saja?
hanya untuk menunjukkan bahwa di masjid tersebut memang dilaksanakan tarawih?
hanya untuk menunjukkan bahwa kita berpartisipasi meramaikan romadhon?
tetapi hakikatnya kita telah mempermainkan kesempatan komunikasi dengan Allah tersebut?
siapa yang berani mengatakan, bahwa dalam sholat yang seperti itu ada tanda-tanda kekhusyu’an?

coba bayangkan betapa “kecewa” sang Pemberi kesempatan melipatgandakan pahala saat menemui kondisi seperti ini..

sholat dalam durasi yang cepat…
bacaan ayat-ayat Al Qur’an tidak dengan tartiil (tajwid dan makhraj)..
gerakan thuma’ninah yang tidak sempurna..
seakan-akan ada sesuatu yang memburu untuk sesegera mungkin menyelesaikan tarawih tersebut..
dimana letak khusyu’nya?
dimana letak tulusnya?

inilah koreksi yang mesti kita renungi bersama, saya dan anda semua..
beruntunglah jika anda telah benar-benar merasakan komunikasi yang hangat dengan Allah, saat tarawih dan ibadah-ibadah anda yang lainnya..

pinggiran bengkalis..
24 agustus 2009..

Posted by: ameernasoetion | October 23, 2009

bunga di pintu surga..

Indonesia MENANGIS lagi..
beberapa tahun belakangan ini merupakan tahun yang menyedihkan bagi Indonesia..
musibah, bencana seolah sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup bangsa ini..
Aceh, Nias, Papua, Yogya, Sidoarjo, Mandailing Natal dan terakhir Padang dan Jambi merupakan rentetan musibah yang meyentuh sisi-sisi daerah Indonesia..
berjuta hati tersentuh, berjuta bantuan diterima, berjuta relawan bekerja, tak terhitung tetesan air mata mengalir mengiringi musibah-musibah itu..

membantu mereka..
satu-satunya kalimat yang mesti ada di hati kita..
bantu mereka dengan dana..
bantu mereka dengan pakaian..
bantu mereka dengan makanan..
bantu mereka dengan perhatian..
bantu mereka dengan senyuman..
bantu mereka dengan do’a..
sekecil apapun yang kita mampu, lakukan buat mereka..
saat mereka tidak memiliki apa-apa, saat mereka kehilangan segalanya, maka mereka masih memiliki kita, kita-lah yang bisa membantu mereka..

beberapa tahun yang lalu, saya masih ingat ada sebuah aksi menggalang bantuan untuk korban tsunami Aceh, saat itu para relawan membagi-bagikan sekuntum bunga bagi para pengguna jalan raya sebagai imbalan duniawi untuk bantuan mereka..
maka ingatlah, sekuntum bunga itu adalah imbalan duniawi, imbalan yang terlihat di dunia ini..
dan di akhirat nanti Allah SWT akan memberikan imbalan yang jauh lebih indah, tidak terduga dan tidak terkira indahnya imbalan tersebut, dengan sarat kita ikhlash memberikan bantuan tersebut..
saya tersentuh melihat berita hari ini, para korban bencana lumpur lapindo di sidoarjo saja mengumpulkan dana untuk memberi bantuan buat mereka..
sebuah contoh berharga untuk kita teladani..

lakukan dengan ikhlash..
maka Allah menjanjikan sekuntum bunga di pintu surga untuk anda semua..
aamiiin..

lebih jauh lagi..
musibah-musibah ini adalah peringatan dari Allah SWT..
maka satu kata lagi yang harus kita perhatikan adalah..
BERUBAH..
mari bersama memperbaiki moral diri, memperbaiki moral bangsa..
karena Allah menjanjikan bangsa yang damai, aman, sentosa, sejahtera, maju, jika masyarakatnya bertaqwa..

saat kita sudah bertekad untuk berbenah, memperbaiki moral diri kita, maka Allah juga menjanjikan sekuntum bunga di pintu surga untuk kita..

Posted by: ameernasoetion | October 23, 2009

sedikit tentang shalat kita..

entah kapan kita sampai pada kesimpulan bahwa sholat adalah kebutuhan, lebih dari sekedar kewajiban, sehingga kita akan selalu merindukannya sebagaimana kerinduan seorang yang haus akan minuman..
karena, saat kita telah mampu ‘memperlakukan’ shalat sebagai sebuah kebutuhan, maka kita akan dengan sepenuh hati melaksanakannya dengan baik, mulai dari persiapannya, whudu’nya, sarat sahnya, rukunnya, sunnah-sunnahnya dan termasuk proses dzikir sesudahnya..
dan saat kita telah mampu melaksanakannya sepenuh hati dan perasaan, maka pada saat itulah shalat kita khusyu’..

dalam Al Qur’an sering disinggung tentang orang shalat, dan orang yang beruntung adalah orang yang bukan hanya sekedar shalat, tetapi orang-orang yang khusyu’ dalam shalatanya..
salah satu contohnya adalah surah al mu’minuun..
dan salah satu pernyataan Allah dalam Al Qur’an yang menjamin shalat dapat menghindarkan manusia dari perilaku keji dan mungkar, akan terwujud tentunya dengan shalat yang khusyu’..
dan masih banyak sekali keutamaan shalat yang diriwayatkan, segala keutamaan itu hanya akan diperoleh lagi-lagi dengan shalat yang khusyu’..

banyak perbincangan telah terjadi tentang shalat khusyu’, banyak tulisan telah dibuat dan banyak buku telah dicetak untuk membahasnya..
setidaknya ada beberapa catatan yang mungkin dapat kita perbincangkan pada tulisan ini..

pertama, shalat hanya dapat kita resapi, rasakan, nikmati kekhidmatannya jika kita mengerti apa sebenarnya yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, kepada siapa ucapan itu kita sampaikan dan siapa yang kita ‘temui’ saat shalat..
memahami apa yang kita baca sepanjang shalat, akan membawa kita pada kondisi serius dalam melaksanakan shalat, sebagaimana layaknya kita memahami apa yang kita utarakan saat kita berdiskusi dengan atasan kita, maka kita akan serius untuk menyampaikannya dengan tujuan atasan kita dapat menangkap pesan yang ada dalam untaian kata-kata yang terucap..
begitu juga dengan shalat, kita harus faham dengan semua ‘perbincangan’ dalam shalat, baru kita bisa merasakan khusyu’nya..
karena pada dasarnya shalat itu adalah satu bentuk komunikasi kita dengan Allah sang Pencipta, maka semestinya kita menyampaikan bacaan-bacaan shalat itu dengan baik, dengan sepenuh hati, dengan harapan semoga Allah memahami maksud kita dan memberi kita segala keutamaan yang kita minta lewat bacaan shalat..
coba pelajari, dalam surah Al Fathihah saja, berapa banyak permohonan yang kita sampaikan kepada Allah??

kedua, karena shalat adalah bentuk komunikasi dengan Allah, maka semestinya kita mampu ‘menghadirkan’ Allah dalam shalat kita..
hadits kedua dalam hadits arba’iin nawawiyah yang disusun oleh Imam Nawawi, menjelaskan kedatangan Jibril pada suatu saat kepada Nabi SAW, untuk mengajarkan 3 pondasi dalam agama Islam yang juga disaksikan oleh para sahabat, ketiga pondasi itu adalah IMAN, ISLAM dan IHSAN..
pengertian IHSAN, sebagaimana yang disampaikan Rasul SAW saat itu adalah, mengabdi kepada Allah seolah-olah kita melihatnya dan kalaupun kita tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Allah selalu melihat kita..inilah konsep menghadirkan Allah dalam shalat kita..
kita harus memahami dengan sepenuhnya bahwa apapun yang kita lakukan, ada Allah yang memperhatikan kita, termasuk shalat..
maka saat kita mampu menghadirkan Allah dalam shalat, kita tidak akan ‘berani’ bermain-main dengan shalat itu..
untuk memohon bantuan dana lewat proposal kepada ‘penguasa’ saja, kita sangat berhati-hati dalam berbicara saat menghadapNya, apalagi memohon kebaikan dunia dan akhirat saat menghadap Allah, seharusnya kita lebih mampu berhati-hati..
sebuah catatan yang harus kita fahami, jangan sampai salah dalam memaknai ‘menghadirkan’ Allah ini, karena saat kita bermaksud menghadirkan Allah dalam shalat dengan membuat sebuah pengandai-andaian bahwa Allah ada di sekitar kita dengan berbagai bentuk rupa yang kita imajinasikan, hati-hati, bisa saja kondisi seperti ini jatuh pada kemusyrikan mempersekutukan Allah..

ketiga,mengoptimalkan thuma’ninah dalam pelaksanaan shalat..
salah satu rukun shalat adalah thuma’ninah..secara etimologi, thuma’ninah itu adalah tenang..
berarti melaksanakan shalat penuh ketenanangan, tidak terburu-buru..
secara istilah thuma’ninah dalam shalat adalah mengambil beberapa saat untuk berhenti sejenak pada setiap gerakan shalat, sebelum kita melanjutkan bacaan pada gerakan tersebut, misalnya saat bangkit dari ruku’, kita berhenti sejenak sebelum membaca ‘robbana la Ka alhamdu …………………”
maka saat thuma’ninah inilah yang mestinya kita gunakan untuk mengembalikan konsenterasi saat ‘mungkin’ konsenterasi itu buyar..
saat thuma’ninah ini juga semestinya kita gunakan untuk menyerahkan kembali shalat kita kepada Allah sebelum menyampaikan apa yang kita inginkan..
jadi, sebelum kita memohon “robbi ighfir li, wa irham ni, dst…………….” pada saat duduk antara dua sujud, maka kita semestinya thuma’ninah dulu dan menyerahkan shalat kita pada Allah..
tentang thuma’ninah ini ada sebuah buku yang sudah membahasnya panjang lebar, tapi maaf saya lupa judulnya..

nah, ini yang mungkin bisa kita renungkan..
muhasabahlah shalat kita..
ingat, bahwa shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab di hari akhir nanti, jika shalat kita baik maka baiknya amal lainnya, dan jika sebaliknya..
maka mari perbaiki shalat kita..

Posted by: ameernasoetion | April 13, 2009

untukmu para perempuan

Puluhan tahun silam, dunia perempuan masih terasa suram. Istilah bahwa perempuan hanya akan berakhir di dapur masih dianut oleh sebagian besar masyarakat. Atau ada paham lain yang mengatakan bahwa perempuan hanya akan memainkan peran “dapur, sumur dan kasur”. Bahkan pada peradaban jahiliyah di jazirah arab dulu, bayi perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup, seakan-akan ada rasa malu yang sangat pada hati para orang tua saat anak yang lahir adalah perempuan. Bahkan sampai sekarang, paradigma seperti itu mungkin masih ada di berbagai belahan dunia, terutama di daerah perkampungan yang belum tersentuh modernisasi. Masih kita temukan seorang perempuan yang tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi, cukup sampai SMA saja, bahkan mungkin tidak perlu sekolah, karena dianggap akan berujung ke dapur juga. Sebuah paradigma dan cara berpikir yang menyedihkan.

Padahal, perempuan sebenarnya adalah makhluk yang amat berharga. Tanpa mereka maka dunia ini tidak akan berwarna. Keseimbangan hidup tidak akan tercapai, karena Allah jelas-jelas menciptakan mereka sebagai pasangan bagi pria, dan memang sudah merupakan sunnatullah bahwa semua yang ada di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan ada ungkapan bijak yang mengatakan bahwa di balik seorang pria sukses, pasti ada perempuan hebat. Ungkapan ini bukan isapan jempol belaka, karena terbukti bahwa di balik para tokoh nasional maupun internasional, selalu ada perempuan yang menjadi inspirator dan pendamping setia bagi mereka. Semua ini menunjukkan bahwa betapa berharganya seorang perempuan dalam kehidupan ini.

Beberapa tahun kemudian, muncullah pergerakan perempuan di berbagai belahan dunia. Di indonesia sendiri pergerakan itu diprakarsai oleh seorang tokoh perempuan yang sudah tidak asing lagi bagi kita, beliau adalah RA Kartini. Terlepas dari adanya kontroversi tentang beliau, setidaknya beliau sudah membuka jalan bagi tersalurnya keinginan para perempuan indonesia untuk mendapat perlakuan dan hak yang sama dengan kaum pria. Kesamaan hak di bidang pendidikan, pekerjaan dan profesi, kebebasan dan sebagainya.

Emansipasi, kata yang belakangan ini menjadi hangat di dunia perempuan. Emansipasi, sebuah suara perubahan untuk memberi perempuan kesempatan seluas-luasnya berkarya sesuai hasrat mereka, tanpa pengekangan. Dengan emansipasi, sekarang ini para perempuan boleh bekerja seperti halnya pria, keluar rumah bahkan keluar kota sebebasnya, memiliki profesi seperti pria, bahkan sampai pada berpenampilan sebagaimana seorang pria. Karena kehendak emansipasi adalah adanya persamaan hak antara pria dan wanita dalam segala bidang.

Saya jadi teringat komentar seorang teman saat emansipasi mulai booming dulunya, dan ini memang menjadi bahan obrolan dimana-mana. Teman tersebut mengatakan, “kalau perempuan minta semuanya disamakan, gimana kalau kamar mandinya juga disamakan?” Maksudnya bagaimana kalau kamar mandi pria dan perempuan itu disatukan? Apa yang akan terjadi? Mungkinkah para perempuan itu mau? Sepertinya jawabannya pasti, TIDAK MAU!

Emansipasi, perkembangan atau kemunduran?

Sebenarnya emansipasi adalah gerbang perubahan yang baik, asalkan dimanfaatkan dengan baik dan tetap memperhatikan batasan-batasan tertentu. Emansipasi merupakan gerbang kesempatan bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi lagi, untuk menambah bekal ilmu. Kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan skill, kesempatan untuk berkarir sesuai keinginan, tetapi tetap memperhatikan batasan-batasan dan norma-norma yang berlaku. Kalau seperti itu saya setuju.

Namun jika emansipasi menjadi gerbang kebebasan untuk seorang perempuan boleh berbuat dan berpenampilan sesuka hatinya, bebas bergaul dengan siapa aja, bebas berkarir dan keluar rumah bahkan keluar kota dengan siapa saja, meninggalkan rumah, suami dan anak-anaknya -bagi yang sudah berkeluarga- sehingga mereka hanya ditemani oleh pembantu dan proses pendidikan dan pembinaan anak akan terbengkalai, maka saya kurang setuju. Bukankah sekolah pertama itu adalah di keluarga? Seorang ibu seharusnya memberi pendidikan terbaik buat anak-anaknya, bahkan sejak anak dalam kandungan. Kalau dikatakan bahwa anak kan bisa disekolahkan di sekolah berkualitas, maka menurut saya itu pun kurang, seharusnya dengan sepenuh kasih saying dan perhatiannya, seorang ibulah yang mendidik anaknya dengan pendidikan dan pembinaan terbaik, karena banyak hal yang tidak diperoleh anak di sekolah dan hanya diperoleh di rumah dari sang ibu tercinta.

Belum lagi harus bersama dengan orang lain di luar kota , yang sangat mungkin sekali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Banyaknya kasus selingkuh bias bermula dari seorang perempuan yang jauh dari suami dan bersama dengan orang lain, dan atau seorang pria yang terlalu lama ditinggal oleh sang istri. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan.

Bahkan profesi-profesi yang dijalani pria juga ingin dijalani oleh perempuan, sehingga misalnya ada perempuan yang berprofesi sebagai pemain sepak bola, atlet angkat besi dan sebagainya yang menurut saya tidak sesuai dengan fitrah seorang perempuan. Seperti yang sering saya sampaikan pada teman-teman perempuan, bahwa menurut saya profesi yang paling cocok untuk seorang perempuan itu hanyalah pada dua bidang saja, yaitu pendidikan, jadi guru, dosen, akademisi dan sebagainya dan kesehatan, jadi dokter, perawat, bidan dan sebagainya.

Dari segi penampilan juga, tidak bisa dipaksakan sama antara pria dan perempuan. Saya pernah bertanya pada seorang teman yang berlatar belakang umum –bukan religius-, mengenai pandangan dia tentang perempuan yang berpenampilan minim dengan perempuan yang berpenampilan menutup seluruh bagian tubuhnya. Saya lumayan kaget dengan jawabannya, karena dia ternyata lebih tertarik dengan perempuan yang menutup seluruh tubuhnya, kelihatan lebih anggun, ayu dan menunjukkan identitas sebagai perempuan terhormat. Karena memang pakaian minim itu adalah pakaian pada zaman purba dahulu kala, jadi kalau saat ini masih ada yang mengenakan, berarti layak dikatakan sebagai manusia zaman dulu juga?

Sebenarnya masih banyak masalah yang nantinya akan ditimbulkan oleh emansipasi yang tidak digunakan tepat pada tempatnya. Mungkin para pembaca juga mampu memikirkan dan menemukannya sendiri. Sehingga, pernyataan “emansipasi, perkembangan atau kemunduran?” rasanya tidak terlalu berlebihan.

Arah emansipasi ke depan

Masa lalu biarlah berlalu. Sikap terbaik adalah perubahan dan perbaikan ke depan harus terus menerus dilakukan. Perubahan ke arah yang lebih baik dalam menyikapi dan melaksanakan emansipasi. Seorang perempuan tidak boleh kehilangan identitas dan jati dirinya dengan adanya emansipasi, justru dengan emansipasi seorang perempuan harus lebih mampu menjadi seorang perempuan agung. Agung dari segala segi, pendidikan, potensi, kemandirian, ketegasan, dan yang tidak kalah penting adalah agung dari segi akhlak, pekerti, sopan santun, moral.

Pada akhirnya segala sesuatunya diserahkan kepada para perempuan. Merekalah yang lebih mengerti dengan urusan mereka, dan merekalah yang lebih mampu mengambil keputusan akan semua persoalan yang berkaitan dengan dunia mereka. Kita percaya bahwa hati nurani dan kedewasaan mereka akan mampu mengajarkan makna emansipasi yang sebenarnya,sehingga mereka tidak terjerat pada emansipasi yang salah.

Pojok Kantor, 4 April 2007
_with lots of love_
_poejangga_

Posted by: ameernasoetion | April 13, 2009

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH, salahnya dimana?

runtuhnya orde baru membawa tahapan baru dalam perjalanan bangsa indonesia. ‘reformasi’, kata yang sering dielu-elukan oleh masyarakat, mulai dari kalangan intelektual sampai pada masyarakat tidak berpendidikan. kata itu seakan menjadi harapan besar akan perbaikan dan peningkatan kesejahteraan rakyat di negara yang kaya raya ini. reformasi, juga menjadi kata yang sering digunakan beberapa elit politik untuk memperoleh simpati dari masyarakat.

reformasi itu ternyata menjadi pintu masuknya sistem demokrasi dalam dunia perpolitikan indonesia. demokrasi, kemudian memfasilitasi bermunculannya partai-partai yang sangat banyak, dengan latar belakang masing-masing yang berbeda, visi misi yang berbeda, tujuan, maksud, faham, dan lain-lain yang berbeda pula. tetapi masing-masing akan mengakui bahwa dialah yang terbaik. demokrasi multipartai inilah yang nantinya menyebabkan adanya serpihan birokrasi seperti yang telah dibahas pada tulisan saya sebelumnya.

masih tentang serpihan birokrasi, yang terjadi di daerah. minimal daerah tempat saya berdomisili sekarang, dan sepertinya juga memang terjadi di daerah-daerah lain. serpihan birokrasi ini benar-benar berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan daerah. kepala daerah dan wakilnya, seperti yang telah kita ketahui bersama, berasal dari partai politik dan golongan tertentu, yang terpilih lewat pilkada. sudah pasti, kepala daerah dan wakilnya membawa misi politik tertentu sesuai latar belakang politiknya tadi, begitu juga dengan wakil kepala daerah jika mereka berasal dari partai yang berbeda kemudian berkoalisi, maka wakil kepala daerah juga pastinya membawa misi tertentu. dan jangan salah, misi-misi tertentu itu akan sangat berpengaruh terhadap perjalanan pengelolaan keuangan daerah.

sekretaris daerah selaku pengguna anggaran, kebanyakan terpilih karena karir, bukan politis. artinya sekda tidak dipilih melalui pemilihan yang melibatkan banyak partai, tetapi merupakan jabatan karir pada pemerintahan atau birokrasi daerah tersebut. memang sekda juga pastinya cenderung kepada partai tertentu, tetapi setidaknya tuntutan partai terhadap sekda tidak lebih dari tuntutan terhadap kepala daerah dan wakil kepala daerah.

DPRD, sudah pasti berasal dari multipartai yang terpilih saat pemilu legislatif seperti yang baru dilalui. sudah barang tentu, di DPRD lebih banyak lagi misi dan kepentingan.

bayangkan saja, saat tahap penyusunan APBD saja, kemungkinan akan banyak masalah. lihat saja di daerah masing-masing, berapa persen daerah kabupaten/kota yang tepat waktu dalam penyusunan APBD mulai dari KUA dan PPAS sampai dengan diterbitkannya Perda tentang APBD tersebut sesuai undang-undang yang mengatur? bukankah kebanyakan terlambat? lagi-lagi karena adanya misi-misi tadi.

sekda selaku ketua TAPBD bersama tim akan menyusun RAPBD sesuai kondisi di lapangan yang dialaminya selama menjalani karirnya di birokrasi daerah. karena secara teknis, mereka memang memahami kondisi lapangan. rancangan tersebut diajukan ke kepala daerah. kepala daerah dan wakilnya pasti akan melirik, mempelajari dan mengevaluasi sejauh mana APBD tersebut memfasilitasinya untuk mewujudkan misi-misi partainya yang ia emban. seandainyapun kepala daerah dan sekda berasal dari partai dan golongan yang sama, belum tentu kepala daerah setuju, apatah lagi berasal dari ‘interest’ yang berbeda? bukankah ini akan membutuhkan waktu yang lama sampai kepala daerah setuju dengan rancangan tersebut?

kepala daerah setuju, maka diadakan pembahasan dengan DPRD. lebih ruwet lagi, dan pasti lebih lama lagi. banyaknya misi di DPRD akan kembali mengobrak-abrik rancangan tersebut. proses ini hanya akan cepat selesai saat fraksi paling besar di DPRD berasal dari partai dan golongan yang sama dengan kepala daerah.

lihatlah, bagaimana komplitnya masalah pengelolaan keuangan daerah baru pada saat penganggaran, belum pelaksanaan dan pertanggungjawabannya. unsur politis memang menjadi kendala tersendiri pada pengelolaan keuangan daerah, di samping masalah SDM, sistem, kurang pemahaman terhadap aturan dan beragam masalah yang akan kita temui di daerah. cobalah evaluasi seberapa banyak PA/KPA, PPKD, BUD/Kuasa BUD, PPK SKPD, PPTK, Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan yang memahami dengan baik tugas-tugasnya. ini tentunya menjadi masalah lain, selain kendala politis tadi.

..^_^..

pinggiran pekanbaru, 13 april 2009
_poejangga_

Posted by: ameernasoetion | April 11, 2009

hati

Rasulullah SAW bersabada, bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging yang sangat menentukan. Jika segumpal daging itu bersih, maka bersihlah diri dan perbuatan manusia tersebut dan sebaliknya jika segumpal daging itu kotor maka kotorlah diri dan perbuatan manusia tersebut. Segumpal daging itu adalah hati.

Allah SWT telah mengingatkan jauh sebelumnya, pada surah asy syams Allah SWT menjelaskan bahwa hati manusia diberi ilham (kecenderungan) tentang dua hal, fujur dan taqwa. Beruntunglah orang yang menyucikannya, dan kerugian bagi orang yang mengotorinya.

Pada suroh al ‘ashr Allah SWT mengatakan bahwa semua orang benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Berarti kebanyakan orang memang telah mengotori hatinya, dan memilih untuk ‘memelihara’ ilham (kecenderungan) fujur yang diberikan padanya. Hal ini memang terbukti, tidak perlu jauh-jauh, ambil saja contoh sholat berjama’ah, sebanyak apakah umat islam yang memahami urgensi sholat berjama’ah dan mau melaksanakannya? Contoh lain adalah dzikr, qiro’atul qur’an dan lain sebagainya. Umat islam saat ini (khususnya di indonesia) masih jauh dari kebiasaan-kebiasaan baik itu. Kita lebih sering memperturutkan hawa nafsu (kecenderungan fujur) daripada nurani (kecenderungan taqwa).

Kondisi inilah juga yang merintis tumbuhnya berbagai penyakit hati. Hasad, iri, dengki, sombong, riya’ dan seterusnya adalah produk dari ketidakmampuan manusia untuk memelihara hati, ketidakmampuan untuk menaham hawa nafsu. Semua ini terjadi karena manusia lebih memilih untuk ‘memelihara’ kecenderungan fujur dalam dirinya. Sunggun semuanya memang tergantung pada diri sendiri.

Rasulullah SAW dalam kesempatan lain, menyambung shuroh al ‘ashr tersebut dengan mengungkapkan bahwa sesungguhnya hati manusia itu memang cenderung untuk selalu kotor, selalu terkalahkan oleh hawa nafsu, selalu mengikuti kecenderungan fujur. Maka Rasulullah SAW menawarkan para sahabat saat itu, dan tentunya termasuk kita saat ini, ada beberapa cara untuk menyucikan hati, yaitu:

1. Qiro’atul Qur’an (membaca al qur’an)

Ya, tentunya memang bukan sekedar membaca, tetapi melaksanakan tahapan-tahapan hubungan dengan al qur’an, yaitu membaca, menghafal, memahami, mengamalkan dan level paling tinggi adalah megajarkannya. Sebaik-baik manusia adalah yang yang mengamalkan al qur’an dan mengajarkannya. Paling tidak kita berusaha untuk rutin membacanya, sehari satu lembar, atau syukur-syukur sehari satu juz. Interaksi rutin dengan al qur’an akan memfasilitasi kita untuk selalu mampu menjaga hati, menyucikannya dan mengikuti kecenderungan taqwa yang ada.

2. Dzikrul Maut (mengingat mati)

Seorang sahabat menggali kuburan di belakang rumahnya. Saat ditanya ia menjelaskan bahwa saat ia merasa telah banyak berbuat dosa, maka ia akan tidur di liang kubur tersebut demi megingatkannya pada mati. Mengingat mati memang akan menyadarkan kita dari kesalahan selama ini. Mengingat mati akan membawa kita pada kondisi selalu berusaha untuk lebih baik, lebih baik lagi dan lebih siap untuk menghadapi kematian tersebut. Setiap kehidupan akan bermuara kepada kematian, tak terkecuali kehidupan kita. Maka bersiaplah untuk menghadapi kematian yang suatu saat pasti kita alami.

3. Hudhuru Majalisi ‘Ilmi (menghadiri majlis-majlis ilmu)

Menghadiri majlis-majlis ilmu akan membiasakan kita untuk berinteraksi dengan sesama orang-orang yang menyucikan hatinya. Senakin sering kita bertemu, berdiskusi, saling menasehati di dalamnya, semakin kita mampu memelihara ketaqwaan. Majlis-majlis seperti ini akan menjadi motivasi tersendiri bagi kita untuk terus menerus menimba ilmu, memahami dan mengamalkan untuk dapat lebih baik lagi di masa-masa sesudahnya.

Pada akhirnya semua terserah pada diri masing-masing, karena nantinya kita juga akan mempertanggungjawabkan semuanya masing-masing. Maka kitalah yang harus berusaha berbuat yang terbaik untuk diri kita, jangan menunggu orang lain yang akan menyucikan hati kita. Seperti kata Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, dari hal-hal yang paling kecil, dan mulailah saat ini.

Terakhir harus kita fahami bersama, bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat dosa, yang ma’sum hanyalah Rasulullah SAW. Namun sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Allah SWT sangat bangga dengan orang-orang bertaubat. Dalam hadits qudsi diilustrasikan, bahwa pada suatu saat seorang musafir tertidur di bawah pohon kurma di padang pasir. Saat ia tertidur, untanya yang membawa seluruh perbekalan tiba-tiba pergi. Ia sangat kaget melihat untanya sudah tidak ada saat ia bangun. Betapa sengsara hatinya, karena secara logika mustahil baginya meneruskan perjalanan dan sampai ke tempat tujuan tanpa unta tersebut. Ia pun sedih sekali. Tidak putus asa, ia pun mencoba tetap menyusuri jalan yang panas itu, sampai akhirnya tiba di sebuah pohon kurma yang lain, ia pun tertidur lagi. Pada saat ia bangun, betapa bahagianya karena ia mendapati kembali unta itu di sebelahnya. Sebuah kondisi yang sangat membahagiakan, dan ia merasa hidup kembali. Nah, Allah SWT lebih bahagia saat menemui ada hamba-Nya yang kembai pada-Nya (baca : taubat) daripada bahagianya musafir yang menemui untanya kembali padanya tadi.

Berusahalah, selamat mencoba.

Pinggiran Pekanbaru, 12 April 2009

_poejangga_

Posted by: ameernasoetion | April 11, 2009

Teach what you’ll test or test what you’ve taught

Wajah pendidikan Indonesia…

Menyedihkan, kata pertama yang tertuang untuk memulai tulisan ini, ungkapan yang mewakili berbagai persepsi terhadap perjalanan pendidikan di Indonesia saat ini. Apa yang terjadi di lapangan, dapat kita saksikan bersama, bagaimana wajah pendidikan di Indonesia tidak mampu memfasilitasi anak-anak bangsa ini untuk menjadi insan-insan yang cerdas, sebagaimana tertuang dalam tujuan bernegara pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, salah satunya yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Semakin tahun dapat kita saksikan semakin banyak problema yang dihadapi dunia pendidikan, bangunan sekolah yang rubuh, gaji guru yang kurang, mahalnya harga buku, guru-guru yang memanfaatkan siswa sebagai lahan bisnis, masih banyak siswa yang tidak mampu bayar biaya sekolah, kebobrokan akhlak dan moral guru dan juga siswa sampai yang terakhir banyaknya siswa yang tidak lulus ujian akhir. Semua itu cukup member gambaran pada kita bahwa sampai pada saat ini dunia pendidikan di Indonesia belum mampu mencetak siswa-siswa yang cerdas. Jangankan cerdas secara emosional spiritual, cerdas secara intelektual-pun belum bias diwujudkan.

Kasus yang sedang hangat adalah banyaknya siswa yang gagal dalam ujian akhir tahun ini, semakin membuktikan kegagalan dunia pendidikan Indonesia untuk mentransfer ilmu kepada para siswa. Bukan saatnya lagi mencari-cari siapa yang salah, karena hamper seluruh elemen yang menyusun dunia pendidikan tersebut semestinya intropeksi diri tentang sejauh mana perannya selama ini dalam menyukseskan pendidikan. Pemerintah dari segi anggaran, fasilitas, kurikilum, regulasi dan metode kontrol yang digunakan, para guru dan tenaga pengajar dari segi kemauan, kemampuan dan keseriusannya untuk member yang terbaik kepada siswa, orang tua dari segi bimbingan, dukungan, semangat dan do’a yang diberikan, siswa dari segi kesadaran, kemauan, keseriusan dan cita-cita yang dimilikinya serta lingkungan dari segi kemampuannya memberi kondisi yang layak untuk keberlangsungan pendidikan.

Satu hal yang akan menjadi sorotan pada tulisan ini adalah kinerja para guru dan enaga pengajar. Memang, guru dan tenaga pengajar adalah salah satu elemen pendukung seperti dijelaskan sebelumnya, dan bukan berarti tulisan ini bermaksud memojokkan para guru dan tenaga pengajar, tetapi hanya berdasarkan pada keinginan untuk member kontribusi dan masukan positif untuk membangun kembali dunia pendidikan, maka tidak ada salahnya untuk saling memberi saran. Saat banyak siswa tidak mampu menyelesaikan ujian akhir tahun ini, dalam hati timbul pertanyaan, jadi selama ini mereka belajar apa? Atau dengan kata lain, para guru mengajarkan apa? Ya, memang semuanya tetap kembali kepada pribadi siswa yang bersangkutan, tetapi sekedar koreksi diri, para guru dan tenaga pengajar juga seharusnya lebih memperbaiki kinerja lagi.

Lihatlah bagaimana metobe belajar mengajar yang dipraktikkan di dalam kelas. Tidak sedikit guru dan tenaga pengajar yang mengajarkan dan menjelaskan mata pelajaran tertentu, sekitar hal-hal yang akan ia ujikan nantinya saat ujian di sekolah. Pokok-pokok bahasan yang sudah disusun dan direncanakan dari awal untuk nanti diujikan di tengah atau di akhir semester, dikemas sedemikian rupa untuk disampaikan kepada siswa. Sementara materi-materi lain yang diperkirakan olehnya tidak akan diujikan, akan diabaikan saja, atau hanya untuk sekedar dibaca oleh siswa. Lalu apa gunanya silabus atau kurikilum? Ya, tidak sedikit guru dan tenaga pengajar yang belum disiplin untuk masalah ketaatan pada kurikulum ini.

Pada saat ujian akhir disusun oleh tim penyusun soal, tidak tertutup kemungkinan ada soal-soal yang tidak masuk dalam pokok bahasan yang telah dipilih oleh guru-guru tadi. Siswa pun banyak berkomentar, ini belum dipelajarilah, ini dulu gak jelaslah, ini gak pernah dipraktikkanlah dan sebagainya. Sedikit banyak komentar para siswa itu benar juga, dan sudah semestinyalah hal ini menjadi masukan berharga buat para guru dan tenaga pengajar, termasuk calon guru masa depan, sebagai bentuk persiapan menyambut tugas mulia menyelamatkan wajah pendidikan Indonesia. Mulailah bertanya, mana strategi yang digunakan, “teach what you’ll test” atau “test what you’ve taught”, mengajarkan apa-apa yang akan diujikan atau mengujikan apa-apa yang telah diajarkan. Tentukan pilihan dari sekarang.

Masih ada harapan..

Tentu, jalan masih panjang. Masih ada harapan di depan untuk memperbaiki keadaan. Masa depan bangsa ini sangat tergantung pada kualitas pengetahuan, skill dan moral para generasi muda, dan semua itu berawal dari bangku pendidikan, baik itu di rumah maupun di lembaga pendidikan formal. Maka peran guru dan tenaga pendidikan sangatlah diharapkan. Kemauan yang kuat, keseriusan dan usaha terus-menerus untuk member yang terbaik pada dunia pendidikan akan sangat bernilai bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa ini, dan pastinya semua itu akan sangat bernilai di mata Tuhan. Bukankah tugas sebagai guru dan tenaga pengajar adalah sangat mulia? Sehingga dengan jelas diuraikan bahwa pahala akan terus mengalir bagi siapa saja yang pernah menyampaikan kebaikan selama kebaikan yang diajarkan tersebut diamalkan oleh yang mendengar, dan sebaliknya dosa akan terus menerus mengalir bagi siapa saja yang pernah memberikan contoh yang tidak baik selama itu dipraktikkan oleh orang yang melihat dan mendengar. Maka berhati-hatilah dalam mengambil sikap.

Pinggiran Pekanbaru, 25 Oktober 2008

_Poejangga_

Posted by: ameernasoetion | February 9, 2009

Serpihan Birokrasi

Demokrasi multipartai yang menjadi sistem perpolitikan Indonesia saat ini tentunya memberikan warna tersendiri pada pentas politik pemerintahan. Birokrasi pemerintahan saat ini diduduki oleh orang-orang yang berasal dari beragam partai, dan tentunya masing-masing pribadi akan memiliki latar belakang, pola piker bahkan tujuan tersendiri yang mungkin berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini didasari oleh perbedaan partai yang menjadi kendaraan politik masing-masing, sehingga tidak tertutup kemungkinan antara seorang kepala dengan wakil kepala sendiri terjadi banyak perbedaan selama menjalankan tugas pemerintahan. Mulai dari perbedaan sikap, pendapat, pandangan bahkan perbedaan kebijakan.
Masih segar dalam ingatan isu perbedaan pandangan pada hal-hal tertentu antara Presiden SBY dengan Wakil Presiden Yusuf Kalla beberapa bulan yang lalu. Isu tersebut sempat tercium oleh insan pers sehingga sempat diangkat menjadi salah satu topik dalam media. Beberapa saat kemudian dengan bijak beliau-beliau menyanggah isu tersebut, karena memang dalam jangka waktu tertentu isu krusial seperti itu dapat mengancam keutuhan birokrasi, bahkan keutuhan bangsa dan negara.
Kondisi seperti itu juga banyak ditemukan pada pemerintahan daerah. Sering terjadi perbedaan-perbedaan pandangan antara kepala daerah dan wakilnya karena perbedaan kendaraan politik tadi. Sang kepala daerah bersikeras dengan pandangannya karena itu merupakan misi yang diusung kendaraan politiknya, begitu juga wakil kepala daerah tetap kukuh dengan pandangannya yang juga merupakan misi kendaraan politiknya. Sampai pada tatanan dinas, badan dan kantor, kondisi tersebut juga sering ditemukan. Inilah demokrasi multipartai.
Bahkan pada sebuah pemerintahan daerah di sumatera, saat kepala daerah mencalonkan diri kembali pada periode berikutnya, dan sesuai ketentuan akhirnya mengundurkan diri dari jabatan dan digantikan oleh wakil kepala daerah yang memimpin beberapa bulan sisa masa baktinya, jelas terlihat kebijakan-kebijakan kepala daerah baru tersebut sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Lebih jauh, kebijakan-kebijakan baru itu terkadang terkesan berlawanan dengan kebijakan sebelumnya.
Padahal semestinya pemerintah adalah organisasi yang utuh, solid dan bekerja sama dalam memberikan pelayanan prima untuk masyarakat. Kondisi-kondisi di atas tentunya akan menjadi masalah tersendiri bagi birokrasi pemerintahan untuk menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat. Pembangunan yang semestinya berjalan di tengah-tengah masyarakat akan terhambat, bahkan gagal. Para birokrat pemerintahan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan dan membahas perbedaan-perbedaan itu daripada menjalankan tugas. Alhasil masyarakat harus puas dengan janji-janji politik yang dikumandangkan saat kampanye, janji tanpa bukti.
Inilah serpihan birokrasi yang pasti menjadi duri dalam pembangunan negeri ini. Saat para elit politik dan orang-orang yang menganggap dirinya bagian dari elit politik belum mampu memahami dan menyikapi sistem demokrasi multipartai ini dengan baik, yang terjadi adalah pecah dan hancurnya birokrasi pemerintahan menjadi serpihan-serpihan tertentu. Serpihan-serpihan tersebut berserakan di jalanan, dan akan menjadi duri-duri yang menghalangi berjalannya pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Pinggiran Pekanbaru,
29 Januari 2009
_poejangga_

Older Posts »

Categories