Feeds:
Posts
Comments

suatu sore, seorang laki-laki separuh baya berprofesi sebagai penjual topi berjalan perlahan pulang ke rumah setelah kelelahan menjajakan topi-topi jualannya..ia menjual topi dari rumah ke rumah, dari desa ke desa, berangkat setiap pagi dan kembali di sore hari..untuk sampai ke rumah, ia harus melewati kebun karet yang dihuni oleh banyak kera (monyet)..sore itu ia masih membawa sekitar 11 topi sisa jualan..

sesampainya di kebun karet tersebut, ia merasa kelelahan, dan berniat untuk beristirahat sejenak..ia pun mencari pohon karet terbaik untuk dijadikan sandaran istirahat sejenak..saking lelahnya, ia pun tertidur sambil menutup wajahnya dengan sebuah topi..

beberapa menit kemudian, ia terbangun..saat terjaga, ia menyadari bahwa topi-topi jualannya sudah tidak ada di dekatnya, yang tersisa hanyalah topi yang ia gunakan untuk menutup wajahnya saat tertidur..sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya, ia melihat ke atas karena terusik dengan suara riuh sekumpulan kera yang ada di pepohonan, dan ternyata topi-topi jualannya telah dikuasai oleh sekumpulan kera tersebut..

bercampur aduk perasaan dalam hatinya, jengkel, marah, menyesal, sedih dan seterusnya..ia menyadari, kehilangan topi-topi itu adalah bencana bagi perekonomiannya dan keluarganya..

ia pun berfikir..beberapa saat kemudian ia terlihat sibuk mencari sesuatu di bawah pohon karet, kemudian menemukan sebuah biji karet..ia melemparkan biji karet tersebut ke arah sekumpulan kera dengan maksud menakut-nakuti agar topi-topi jualannya dikembalikan..kera-kera itu pun kemudian memetik biji-biji karet di sekitarnya dan membalas melempari si penjual topi..

tidak habis akal, ia kemudian mematahkan sebuah ranting pohon di sebelahnya dan melemparkan ranting ke arah kera-kera tersebut..kembali sekumpulan kera mencari ranting dan melemparkannya ke arah si penjual topi..

oooo..ia mendapat ide..ia kemudian mengambil topi tersisa yang tadi digunakan untuk menutup wajahnya saat tertidur dan melemparnya ke depan..alhasil sekumpulan kera tersebut akhirnya melemparkan topi-topi ke arahnya, dan ia pun meloncat kegirangan, topi-topi jualannya telah kembali..

separuh abad berlalu, kini giliran cucunya yang melanjutkan profesinya sebagai penjual topi di tempat yang sama dengan cara yang sama dan melalui kebun karet yang sama..

kisah terulang, ia tertidur di bawah pohon karet dan sekumpulan kera yang mungkin juga cucu-cucu kera sebelumnya mencuri topi-topi jualannya..saat terjaga ia menemukan hal yang sama dengan kakeknya..

ia berfikir, dan mengingat kisah sang kakek yang telah diceritakan di keluarganya turun-temurun..ia mengulanginya kembali, lempar biji karet dibalas biji karet, lempar ranting di balas ranting, dan ia bersiap-siap ke tahap selanjutnya, tahap yang paling menentukan, yaitu melempar topi yang ada di tangannya..

ia pun melempar ke depan, dan ia terkaget-kaget karena sekumpulan kera tersebut tidak mengikutinya, kera-kera tersebut menahan topi-topi di tangan masing-masing..seekor kera yang kemungkinan kepala suku kemudian berteriak sembari mengejek sang penjual topi dengan berkata “emang cuma loe yang punya moyang???”..

ejekan tersebut disambut tawa riang gembira sekumpulan kera dan menyisakan bermacam-macam perasaan di hari penjual topi, marah, jengkel, menyesal, kece dan lain sebagainya..

apa hikmahnya? silakan menyimpulkan sendiri.. setidaknya kita harus sadar bahwa untuk menghadapi kasus yang sama dalam kurun waktu yang berbeda, tidak bisa menggunakan teknik yang sama, harus ada improvisasi-improvisasi yang kita temukan, dan itu menuntut kreativitas pada diri kita masing-masing..

hmmmm…

memang sebagian rakyat ini masih menganut budaya minta dikasihani..

kisah bermula pada suatu hari saya sedang berada di sebuah bandara internasional di Indonesia, sedang check in untuk keberangkatan, kebetulan saya membawa banyak barang, ada 4 buah kardus lumayan besar2, 2 buah travel bag dan 1 buah tas biasa..

check in lancar, barang ditimbang ternyata masih memenuhi batas maksimal barang bawaan, 20 kg per orang..

setelah check in, saya berbalik dan akan beranjak dari ‘loket’ check in tersebut, tiba2 seorang petugas maskapai yang bersangkutan (dapat diketahui dari seragam dan name tag yang dikenakan) mendekati dan berbisik..

“pak, pesan dari petugas di belakang, tolonglah pak kasih uang minum dikit karena barang-barang bapak besar2, berat ngangkatnya”

“oo gitu, yang mana orangnya?” tanya saya

“yang itu pak” lautnya sambil menunjuk seseorang yang mengintip dari arah belakang ‘loket’..

“kok gak langsung aja, kalo berani minta langsung ke saya” sambung saya

“kalo dia ke sini, ntar dimarahi sama petugas keamanan, pak” jelasnya lagi

“nah itu, berarti kan kalian salah. ini kan sudah tugas dan kewajiban kalian, jadi kok masih minta2?” terang saya

“iya, pak. tapi ini mohon aja ni, antar kita aja” pintanya

akhirnya saya kasih selembar pulus berwarna hijau padanya..

huhhh..

budaya ini, kapan bisa hilang???

..^-^..

apakah ayah dan ibu anda sekarang sudah renta?

apakah mereka masih bisa makan dan minum sendiri tanpa disuapin?

begitu juga dengan kegiatan lainnya, apakah mereka masih sanggup sendiri atau harus anda bantu?

suatu saat, sebuah keluarga yang terdiri dari seorang anak laki-laki, seorang ayah yang pastinya juga laki-laki (anak si kakek), seorang ibu dan seorang kakek tinggal di sebuah rumah sederhana, dengan kondisi keluarga yang lumayan berada tapi tetapi cukup pelit untuk keluarga se-lumayan itu..

si kakek belum terlalu tua, tetapi sudah tidak cukup muda untuk bisa makan, minum dan lainnya sendiri..tangannya, jemarinya, kakinya sudah cukup kaku untuk melakukan kegiatan sendiri..ia butuh ditemani, dibimbing, dibantu, disuapin, dituntun dan seterusnya..mungkin ini semua efek dari kerja kerasnya sewaktu muda yang banting tulang demi keluarganya, demi anak-anaknya..demi masa depan mereka..demi..demi..demi..dan demi..dan itu yang sering KITA lupakan.. KITA LUPAKAN..

suatu hari, saat makan malam, karena tangan dan jemarinya yang kaku, ia kesulitan untuk memasukkan sendok ke dalam mulutnya, sehingga makan malam tersebut tidak dapat dinikmatinya..bahkan, tangannya yang kaku tidak sengaja menyenggol sebuah piring dan pjarrrrr…pecah membanting lantai…si anak melihat si kakek penuh iba, tetapi buru-buru si ayah setengah membentak anaknya, “rio, makan”, seolah mlarang si anak untuk tidak boleh memiliki keinginan untuk membantu kakeknya..satu lagi pjaarrrrr..kali ini sebuah gelas..

beberapa hari kemudian, si ayah memutuskan untuk membuat tempat sendiri untuk si kakek yang tidak lain bapak kandungnya sendiri, tempat makan sendiri, piring sendiri dari bahan sterofom, gelas sendiri dari bahan plastik..si kakek sangat terpukul, dalam keadaan kaku seperti itu, ia butuh dibantu, disuapin, dituntun, bukan malah diasingkan seperti ini..setiap makan ia kesusahan, ia nangis, sedih, terpukul…

kejadian ini terjadi setiap hari..hingga suatu malam, si ayah tidak mendapati anaknya di kamar, ia pun mencari dan akhirnya menemukan anaknya di kamar si kakek, betapa terkejutnya ia mendapati anaknya sedang duduk di sebelah si kakek yang sedang tertidur sambil menggunting-gunting kertas menjadi bentuk beberapa buah piring..

si ayah bertanya, “rio, buat apa piring kertas itu?”

si anak menjawab dengan polos, “rio bikin piring kertas buat ayah nanti setelah tua”

duarrrrr..seketika si ayah tersadar, terpojok sekali hatinya, terpukul oleh jawaban anaknya..ia pun tersadar akan segala sikap dan perilakunya yang sangat-sangat tidak pantas kepada si kakek yang tidak lain bapak kandungnya sendiri..

apakah KITA seperti si ayah?

hmmmm..rawatlah mereka sebaik-baiknya di usia rentanya nanti..

saat KITA diberi kesempatan merawat ayah ibu kita di masa renta, maka salah satu pintu surga ada di hadapan kita, tinggal tergantung kita, mau membuka pintu tersebut dan masuk atau menjauhinya..

..^-^..

ngobatin yang mana?

ada seorang tua datang ke klinik mau berobat, kakinya berdarah di bagian ujung jari, rupanya si orang tua tersandung batu beberapa saat sebelumnya.. sesampainya di klinik, perawat langsung mengobati kakinya, membasuh dengan alkohol 70%, ditetesin betadin, dobalut kasa dan plester..

si orang tua membayar, mengucapkan terima kasih dan berlalu..

beberapa saat kemudian, si orang tua tersandung lagi, berdarah lagi, diobatin lagi dan akan seperti itu selamanya..kenapa? karena ternyata si orang tua rabun..bagaimana dia bisa melihat jalan dengan jelas? sehingga sering tidak melihat kalau di depannya ada batu besar dan dan akhirnya tersandung..

hal seperti ini yang sering terjadi pada kita..terkadang kita tidak fokus dalam melihat dan mengkaji masalah, sehingga tidak menyentuh masalah inti, hanya menyenggol masalah-masalah cabangnya..bukan rabunnya yang diobatin, tetapi kakinya yang berdarah yang selalu diobatin setiap tersandung..

memang perlu lebih teliti ke depan, saat kita mengalami sebuah masalah dalam hidup, perlu kita kaji lebih dalam, lebih detail, apa sebenarnya masalah pokoknya, dan dari masalah pokok itulah kita memulai mencari solusinya..sehingga kita tidak terlena dan berlarut-larut dalam waktu yang lama, tetapi dapat dengan segera menyelesaikannya dengan baik..

..^-^..

semenjak Republik ini memutuskan memisahkan POLRI dari angkatan bersenjata, mengembalikan POLRI kepada fungsi aslinya, POLRI pun semakin berusaha menunjukkan keseriusannya dalam melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat, fungsi sebagai mitra masyarakat, karena memang inilah fungsi POLRI, berbeda dengan fungsi pertahanan yang diemban oleh TNI..

seiring dengan berjalannya waktu, POLRI pun berbenah, memperbaiki kinerja unit-unit pelayanan yang dimilikinya, seperti lalu lintas, pengaduan, keamanan sipil dan lain sebagainya..

namun, ada satu hal yang mungkin agak terlupakan, yaitu tingkat kesiagaan..karena fokus kepada pelayanan masyarakat, maka POLRI sepertinya memang tidak pernah berprasangka buruk kepada masyarakat, berfikir positif kepada masyarakat di sekitar markas polisi di semua daerah..

hal ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya penyerangan markas Polsek Hamparan Perak..karena saya baca di sebuah berita, ternyata sebelum terjadinya penyerangan, ada seseorang yang datang ke mapolsek tersebut menanyakan keberadaan Densus 88, terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut, yang pasti tingkat kesiagaan di markas polisi, terlebih-lebih markas kepolisian sektor memang masih tidak cukup kuat untuk menghadapi adanya serangan sewaktu-waktu dari orang-orang yang tidak puas dengan kinerja kepolisian..

inilah yang mungkin menjadi dilema, saat mengedepankan fungsi pelayanan, sudah sangat tepat sekali saat polisi menghilangkan prasangka buruk terhadap masyarakat, namun mungkin perlu menjadi catatan, lebih-lebih setelah terjadinya peristiwa mapolsek Hamparan Perak, kepolisian juga perlu membenahi kesiagaan di setiap markasnya..

pernahkah anda punya masalah yang harus segera diceritakan kepada sesorang? atau punya keinginan dan permintaan yang ingin segera disampaikan? saat anda mengalami ini, dan anda diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang yang dimaksud, pastinya anda akan menggunakan kesempatan tersebut sebaik mungkin, dengan segenap kemampuan anda untuk menyampaikan maksud hati yang telah terpendam selama ini, dan berharap tujuan anda akan tercapai..

ya, komunikasi..karena dengan komunikasi-lah kedua belah pihak sama-sama memahami keinginan masing-masing, komunikasilah yang menjadi jembatan penyelesaian berbagai masalah, komunikasi adalah media terbaik yang disediakan oleh Tuhan agar manusia bisa saling memahami, saling mengerti dan saling menyayangi..

nah, bagaimana dengan keinginan dan permintaan kita yang banyak dan akan kita komunikasikan dengan Tuhan? apa sarananya?

sholat..sholat adalah bentuk komunikasi kita dengan Tuhan yang kita laksanakan minimal 5 kali sehari semalam untuk menyampaikan semua keinginan kita..setiap hari kita telah melaksanakannya, tetapi mungkin tidak sedikit di antara kita yang belum memahami bahwa sholat itu adalah bentuk komunikasi dengan Sang Pencipta..

saat kita menyadari bahwa sholat adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan, maka sejak saat ini semestinya kita mampu memanfaatkan momen komunikasi tersebut sebaik mungkin sehingga semua keinginan dan permintaan bisa kita sampaikan sepenuh hati dan sepenuh harapan semoga dikabulkan..maka seharisnya tidak ada lagi istilah bahwa sholat hanya sekedar lepas/gugur kewajiban, tetapi lebih dari itu, sholat adalah sebuah kebutuhan, kebutuhan NGOBROL dengan Tuhan, meluahkan segala keluh kesah, keinginan, curhat dan berbagai kepentingan lainnya..

maka seharusnya sholat dilaksanakan dengan serius, seolah-olah kita sedang berdialog serius dengan Tuhan..

tentang dialog dengan Tuhan, harus hati-hati memahaminya, jangan sampai terkesan ada wujud/dzat Tuhan di hadapan kita, nanti bisa syirik..

..^-^..

saya baru saja balik dari kampung kelahiran setelah mudik lebaran kemarin, selama di sana, saya bisa menelusuri kembali sudut-sudut kota kelahiran yang telah lama tidak dilalui, dan pastinya pada beberapa titik posisi ada kenangan-kenangan tertentu yang membayang di pikiran..

hmm..

namun, bukan masalah lebaran atau kenagan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini..ada sedikit perasaan iba, kesal, saat mendengar dan memperhatikan kondisi terkini dunia sekolah di sana, di daerah kelahiran saya..mudah-mudahan ini tidak terjadi di daerah lain..

kebetulan, saat saya masih di sana, persekolahan telah dimulai setelah liburan lebaran..seperti biasa, hari pertama masuk sekolah dimanfaatkan untuk halal bil halal atau gotong royong kebersihan sekolah dan pekarangannya..dan tradisi ini sepertinya masih dijaga..

pada saat saya melintasi jalan raya, yang notabene banyak terdapat sekolah mulai dari SD sampai SMA di pinggir jalan raya tersebut, saya bisa menyaksikan beberapa sekolah yang hari pertamanya digunakan untuk kebersihan..bagus, ini memang tradisi yang lumayan bagus dan perlu dipertahankan, banyak hikmah yang dapat diambil darinya..

namun, ada hal yang menyesakkan jiwa, karena pada saat gotong royong kebersihan sekolah dan pekarangannya, saat para siswa bekerja keras, bahkan sebagian di antara mereka tidak menyadari pakaian seragam yang dikenakannya telah kotor berlumuran tanah dan kotoran lainnya, maka pada saat itu juga saya menyaksikan beberapa guru malah hanya berdiri bertolak pinggang di sekitar siswa-siswanya, laksana seorang mandur yang mengawasi pekerjaan para anak buahnya..miris, bukankah semestinya mereka memulai, menjadi teladan yang nantinya akan diikuti oleh para siswanya? apa kira-kira yang terpikir di benak para siswa saat mendapati guru yang demikian? mungkin mereka akan berfikir, “nanti saat saya jadi guru, saya akan balas dendam”..ya, mungkin..

saya menceritakan itu di rumah, kontan saudara-saudara saya menambahka cerita lainnya, masih tentang keteladanan..di beberapa sekolah, ada peraturan intern yang melarang siswa-siswanya untuk menonton acara organ tunggal yang sering diadakan di sana, khususnya kalau lagi ada hajatan, kemungkinan akan ada organ tunggal, tetapi mereka menambahkan, bahwa pada saat yang sama, guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut ternyata nonton organ tunggal dimaksud, bahkan dengan pakaian yang tidak mencerminkan kepribadian sekolahnya, tanpa jilbab (sekolahnya adalah madrasaha tsanawiyah dan madrasah aliyah)..

ya, mungkin ini hanya terjadi di daerah kelahiran saya, tetapi tetap tidak tertutup kemungkinan hal ini juga terjadi di daerah lainnya..dan ini hanyalah sedikit contoh, mungkin masih banyak kisah dan kasus lain yang sama..

yang pasti, pendidikan kita miskin keteladanan..

..^-^..

rindu

anda tau bagaimana rasanya lama tak ketemu dengan orang-orang yang pernah membersamai anda dan anda menikmati kebersamaan tersebut?

kangen..

itu jawaban yang paling logis..

itu mungkin yangn saya rasakan saat ini, entahlah..yang pasti aku pernah bersama mereka, lama bersama mereka, bernyanyi, bermain, bercanda, makan, olahraga ceria, bola sarung dll..di sisi lain, dihukum bersama, sedih, marah, sengketa, kesalahpahaman dan berbagai rasa lain telah dilalui bersama..

di antara mereka ada orang-orang spesial yang memiliki kedekatan yang lebih di banding lainnya, dulu, dan sampai sekarang mudah-mudahan masih seperti itu..

keberamaan itu telah berlalu selama lebih dari 5 tahun, dan saat ini ingin rasanya mengulang kembali, meski hanya satu hari, satu hari dengan mereka, satu hari yang tentunya syahdu..

saat ini, jika terealisasi, aku ingin..aku ingin berterima kasih pada mereka, karena aku saat ini, baik buruknya diriku saat ini, keberhasilanku saat ini, tidak lepas dari pengaruh mereka, karena di tengah-tengah merekalah karakterku terbangun, di tengah-tengah mereka pola pikirku berkembang mengalami proses pematangan menjadi seperti saat ini..mereka yang telah banyak memberi inspirasi, memberi dukungan, memberi kebahagiaan, bahkan mungkin memunculkan kebencian, tapi itu wajar, dan sangat wajar, itu semua bunga-bunga kehidupan..

aku juga ingin memohon maaf..memohon maaf atas segala kecerobohan dan segala trouble yang pernah aku perbuat..mulai dari trouble sederhana sampe masalah yang menggelegar mengguncang kedamaian asrama..itu semua karena karakter yang belum utuh terbentuk dan dipengaruhi oleh emosi yang belum matang..

itu semua memang salahku, dan aku (akan) minta maaf..

mungkin telah banyak yang berubah dari mereka, begitu juga dengan aku, lagi-lagi itu hal yang wajar, karena justru kalau tidak ada perubahan, itu aneh..hehe..

yang penting, aku rindu..

hmm…

blog ini memang dibuat untuk berbagi, berbagi buat sesama..

menindaklanjuti cerita saya bertajuk “Kartu Identitas Tunggal”, edisi kali ini akan menceritakan kondisi lain yang saya alami dalam proses pengurusan KK dan KTP di tempat domisili saya sekarang..

dari awal saya memang sudah berniat akan mengikuti prosedur pengurusan sesuai ketentuan yang berlaku..maka saya melaksanakan niat tersebut dengan mengikuti tahapan demi tahapan pengurusan tersebut satu persatu..lelah, memang lelah, tapi pengen tau, bagaimana sebenarnya susah senangnya ngurus KK dan KTP..

diawali dengan pengurusan surat pindah ke kelurahan, alhamduliLlah selesai pada hari yang sama, hanya menunggu beberapa jam saja, dan selesai..surat pindah dibubuhi sebuah materai Rp2.500,00..saat menerima surat pindah yang sudah ditandatangani oleh lurah tersebut, saya bertanya (sambil menunjuk materai), “berapa, pak?” sang bapak menjawab, “seikhlashnya aja”..hmmm..kasih Rp*****,**.. OK, it’s the first..

selanjutnya surt pindah tersebut dibawa ke kecamatan (lama), untuk memperoleh tanda tangan camat, alhamduliLlah besoknya belum selesai, besoknya lagi belum selesai juga, katanya bu camat sibuk, banyak agenda..sekitar 4 atau 5 hari baru dapat diambil, ya gak apa-apa, wajar bu camat sibuk..saat menerima, saya tanya lagi, “berapa, bu” (kali ini seorang ibu), sang ibu menjawab persis seperti sebelumnya, “seikhlashnya aja”..wow..

inilah yang disebut pengurusan GRATIS, karena namanya seikhlashnya berarti kita boleh bayar boleh tidak, dengan catatan, kalau gak bayar siap-siap dikasih muka manyun dan sedetik setelah yang bersangkutan meninggalkan kantor lurah/camat, langsung jadi bahan pembicaraan sampai waktu yang tidak ditentukan..hahahahaha..

surat pindah selesai, mantap..sekarang ke kantor lurah tujuan (baru)..sampai di sana, saya serahkan surat pindah telah diketahui oleh Ketua RT dan RW dan KK lama asli, kemudia saya diberi beberapa format yang harus diisi, saya isi dan saya serahkan beberapa hari setelahnya..tidak bisa selesai hari tersebut, pak lurah lagi keluar, banyak agenda juga..besoknya saya datangi lagi, alhamduliLlah sudah selesai dan diberi dua buah materai yang sama seperti di kantor lurah sebelumnya (lama), lagi-lagi saya tanya (sambil menunjuk materai tersebut), “berapa bu?”  sang ibu menjawab “Rp20.000,00 aja”..

wow..fantastic..kali ini dipatok..

nasib..nasib..

hahahaha..

munculnya training ESQ oleh Ary Ginanjar Agustian seakan menjadi pintu masuknya berbagai training yang bertujuan untuk mengasah kecerdasan emosional di Indonesia..sebelumnya mungkin ada juga training-training semacam itu, akan tetapi tidak terlalu memasyarakat, dan baru booming setelah training ESQ yang dilengkapi dengan penerbitan buku ESQ dan ESQ Power yang juga menjadi best seller..

salah satu buku rujukan yang kemudian dijadikan sebagai sarana dan bahan (modul) pelaksanaan training semacam itu adalah Seven Habit, karya Stephen Covey (ingetin ya, kalo salah tulisannya)..para penggagas training mencoba mengemas isi buku tersebut ke dalam sebuah presentasi dan games yang lebih aplikatif agar semua orang dari berbagai lapisan masyarakat lebih mudah dalam memahami dan mengaplikasikan isi buku tersebut dalam keseharian..

sepengetahuan saya, semua buku yang mencoba memberi motivasi perbaikan dalam personality seseorang, langkah awalnya selalu mengarahkan para pembaca kepada proses megosongkan hati, mengajak pembaca untuk kembali kepada titik nol kehidupan dan kemudian diarahkan perlahan kepada kondisi bangkit kembali untuk memulai kembali sebuah hidup yang tentunya jauh lebih baik daripada sebelumnya..Ary Ginanjar Agustian menggunakan istilah Zero Mind Process untuk proses tersebut..

akan tetapi ujung dari acara-acara training yang dilaksanakan, setidaknya yang pernah saya ikuti, adalah sebuah kontemplasi, dan itu wajar, sebagai sebuah kesimpulan acara..akan tetapi pengelolaan kontemplasi tersebut yang patut untuk dikomentari, setidaknya menurut saya sendiri..

minggu lalu, acara tersebutpun dilaksanakan di kantor tempat saya bekerja, Seven Habit, oleh sebuah lembaga training dari Ibukota yang juga pernah mengadakan training yang sama di kantor pusat instansi saya bekerja.. akhirnya adalah kontemplasi, tetapi tetap dengan gaya lama, membawa peserta kepada suasana sendu dengan berbagai kalimat yang tersusun tidak terlalu rapi, penuh dengan kalimat-kalimat bermuatan persuasi, penuh kisah dosa, kesalahan, kelemahan, kekurangan selama ini dipadu dengan alunan musik sendu, kadang-kadang bergemuruh menggetarkan hati, mengajak peserta mengingat kuasa Tuhan, kasih sayang Ayah Ibu, kontribusi sosial orang-orang di sekitar dan lain sebagainya..tak ayal, tidak sedikit dari peserta yang menagis tersedu-sedu, berteriak histeris dan berbagai luahan perasaan lainnya muncul..dalam beberapa kondisi tertentu, pemandu acara bahkan seperti memaksa peserta untuk ikut larut dalam tangisan penyesalan..

bagus..saya tidak mengatakan ini salah, memang bagus..efeknya bagus buat peserta pemula..

namun ada beberapa catatan: pertama, untuk peserta bukan pemula yang sudah beberapa kali mengikuti acara sejenis, ini akan membosankan, mereka mungkin tidak akan larut dalam suasana melainkan merasa capai dan lelah, lelah fisik dan lelah rasa, memang ada dua kemungkinan, sudah bosan karena sudah beberapa kali ikut, atau memang hatinya dah membatu dan tidak terpengaruh suasana lagi..

kedua, kesan saya, kalimat-kalimat persuasif yang dilantunkan terkadang terlalu berlebihan, terlalu dilebih-lebihkan, sehingga bagi orang yang berdasar pada logika dan menomorduakan perasaan, ini akan terasa membosankan..

terkait dengan dilebih-lebihkan, memang Indonesia sepertinya senang dengan hal seperti itu, lihat saja beberapa acara di televisi, mulai dari drama, sinetron bahkan sampai kuis-pun dilebih-lebihkan, letaknya adalah pada saat menentukan apakah jawaban benar atau salah, pasti menunggu beberapa saat untuk memancing adrenalin dan emosi, katanya..hehe..

nah, saya terfikir, apakah lembaga-lembaga training kecerdasan emosi belum memikirkan kemungkinan cara lain untuk mengakhiri acara training yang mereka laksanakan? terus terang pada acara minggu lalu, saya tidak menangis, bahkan capai, lelah dan bosan..dan saya mengakui (kalimat ini saya sampaikan juga pada lembar saran buat pemandu acara), bahwa saya jauh lebih mudah menangis dengan membaca Al Qur’an daripada dengan mendengarkan kalimat-kalimat persuasif dari pemandu acara..ya, anggap aja hati saya sudah beku dan keras..yang penting saya tetap terpilih jadi peserta paling partisipatif, dan tentunya ada hadiah untuk itu..

haha..

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.